Fig 17.6
Komponen utama dalam teknik ini adalah kapasitor dan
induktor yang berfungsi menghasilkan pulsa tegangan atau arus berlawanan.
Prosesnya melibatkan pengisian dan pengosongan kapasitor secara terkontrol
untuk menciptakan kondisi reverse bias pada SCR, menginterupsi aliran
arus utama. Metode ini banyak digunakan dalam aplikasi seperti chopper (pemotong
DC), inverter, dan sistem konversi daya yang memerlukan switching
presisi.
- Mematikan
SCR pada rangkaian DC
- Menghasilkan
switching yang cepat dan andal
- Meningkatkan
kecepatan dan keandalan proses pergantian kondisi konduksi ke non-konduksi
pada perangkat daya.
- Mengendalikan
arus dan tegangan pada perangkat
- Meningkatkan
efisiensi sistem daya
- Memperluas
aplikasi SCR
- Mendukung
pengembangan teknologi konversi energi
A. Alat
1.Software
Proteus (ISIS Professional)
Voltmeter
adalah alat ukur listrik yang digunakan untuk mengukur besar tegangan atau beda
potensial antara dua titik dalam suatu rangkaian listrik. Fungsi utamanya
adalah memastikan nilai tegangan sesuai dengan kebutuhan komponen agar tidak
terjadi kerusakan akibat tegangan berlebih atau kurang. Dalam konfigurasi
pengukuran, voltmeter harus dipasang secara paralel dengan beban atau komponen
yang akan diukur tegangannya, karena dengan cara ini arus listrik tidak
mengalir langsung ke dalam voltmeter (karena hambatan dalamnya sangat besar),
sehingga pengukuran menjadi akurat dan tidak mengganggu kinerja rangkaian.
B. Bahan
Battery
Baterai (Battery) adalah sebuah
alat yang dapat merubah energi kimia yang disimpannya menjadi energi Listrik
yang dapat digunakan oleh suatu perangkat Elektronik. Hampir semua perangkat
elektronik yang portabel seperti Handphone, Laptop, Senter, ataupun Remote
Control menggunakan Baterai sebagai sumber listriknya. Dengan adanya Baterai,
kita tidak perlu menyambungkan kabel listrik untuk dapat mengaktifkan perangkat
elektronik kita sehingga dapat dengan mudah dibawa kemana-mana. Dalam kehidupan
kita sehari-hari, kita dapat menemui dua jenis Baterai yaitu Baterai yang hanya
dapat dipakai sekali saja (Single Use) dan Baterai yang dapat di isi ulang
(Rechargeable).
2. Ground
Ground adalah titik kembalinya arus searah atau
titik kembalinya sinyal bolak balik atau titik patokan dari berbagai
titik tegangan dan sinyal listrik dalam rangkaian elektronika.
3. Diode
Dioda (Diode) adalah Komponen
Elektronika Aktif yang terbuat dari bahan semikonduktor dan mempunyai fungsi
untuk menghantarkan arus listrik ke satu arah tetapi menghambat arus listrik
dari arah sebaliknya.
4. Resistor
Fungsi utama dari resistor
adalah membatasi aliran arus. Resistor dapat menahan arus dan
memperkecil besar arus. Besar resistansi (kemampuan menahan arus) resistor
disesuaikan dengan kebutuhan perangkat elektronika.
Cara Menghitung Nilai Resistor
7. Transistors.
Transistor adalah komponen
elektronik yang berfungsi sebagai saklar atau penguat
sinyal. Transistor memiliki tiga kaki: basis (B), kolektor
(C), dan emitor (E). Dengan mengatur arus kecil di basis,
transistor bisa mengendalikan arus yang lebih besar antara kolektor dan emitor.
Forced commutation adalah teknik mematikan arus pada
perangkat semikonduktor daya seperti thyristor dengan cara memaksa arus menjadi
nol menggunakan rangkaian bantu (commutation circuit). Pada thyristor, arus
tidak dapat dimatikan hanya dengan menghilangkan sinyal trigger karena
thyristor bersifat latching device yang tetap menghantarkan arus selama arus
anoda tidak turun di bawah arus holding. Oleh karena itu, diperlukan teknik
komutasi paksa untuk memutus arus tersebut
Forced commutation bekerja dengan menerapkan tegangan balik
(reverse voltage) pada thyristor utama melalui rangkaian bantu, sehingga arus
melalui thyristor dipaksa turun hingga nol. Biasanya, rangkaian komutasi ini
menggunakan komponen seperti kapasitor, induktor, dan thyristor bantu yang
diatur sedemikian rupa untuk menghasilkan tegangan balik yang mematikan
thyristor utama. Setelah arus turun di bawah arus holding, thyristor utama akan
mati (turn-off). Waktu pemutusan (turn-off time) bergantung pada arus beban dan
karakteristik rangkaian komutasi.
Singkatnya, forced commutation memanfaatkan rangkaian eksternal untuk
mengalihkan arus dan memberikan tegangan balik sehingga thyristor dapat
dimatikan secara paksa meskipun arus beban tidak turun secara alami
Forced commutation adalah teknik dalam elektronika
daya yang digunakan untuk memadamkan SCR (Silicon Controlled Rectifier)
secara aktif, terutama pada rangkaian dengan sumber arus searah (DC).
Berbeda dengan natural commutation yang terjadi secara otomatis saat
arus beban turun ke nol (seperti pada sistem AC), forced commutation memerlukan
rangkaian tambahan seperti kapasitor dan induktor untuk
menciptakan kondisi di mana arus melalui SCR menjadi nol dan tegangan reverse
dapat diterapkan, sehingga SCR dapat padam.
Teknik forced commutation dibagi menjadi beberapa kelas,
seperti Class A hingga Class F, tergantung pada cara dan komponen yang
digunakan. Contohnya, pada Class B (resonant commutation) digunakan
rangkaian LC (induktor-kapasitor) untuk menghasilkan arus osilasi singkat yang
memadamkan SCR, sedangkan pada Class C, dua SCR digunakan secara
bergantian untuk mematikan satu sama lain dengan bantuan kapasitor. Forced
commutation sangat penting dalam pengoperasian konverter DC-DC, inverter, dan
sistem pengendali motor berbasis SCR, di mana komutasi alami tidak dapat terjadi.
A. problem
Soal Problem 1 – Class B Forced Commutation
Sebuah thyristor dikendalikan menggunakan teknik komutasi paksa Class B. Kapasitor yang digunakan berkapasitas 10 µF dan dihubungkan seri dengan induktor 1 mH. Berapa frekuensi resonansi dari rangkaian LC ini?
Jawaban:
Gunakan rumus frekuensi resonansi:
2. Soal Problem 2 – Waktu Komutasi
Jawaban:
3. Soal Problem 3 – Analisis Bentuk Gelombang
Jawaban:
Itu menunjukkan bahwa komutasi paksa berhasil – arus turun ke nol karena kapasitor melepaskan muatan sebagai tegangan balik, menyebabkan SCR padam.
B. Soal Pilihan Ganda
Soal No.1
Pada aplikasi konverter DC, mengapa Class A (load
commutation) tidak cocok digunakan?
A. Karena hanya berfungsi pada arus AC
B. Karena membutuhkan komponen aktif tambahan
C. Karena hanya dapat memadamkan SCR jika beban bersifat resistif murni
D. Karena tidak dapat bekerja pada arus searah (DC)
Soal No. 2
Sebuah rangkaian Class B commutation menggunakan kapasitor dan induktor
. Hitung waktu komutasi
penuh
dari satu siklus osilasi LC
(anggap ideal dan tanpa redaman).
A. 15.7 µs
B. 3.14 µs
C. 6.28 µs
D. 10 µs
Soal No. 3
Mengapa forced commutation diperlukan dalam rangkaian dengan
sumber DC?
A. Karena tegangan DC terlalu tinggi
B. Karena SCR tidak dapat padam sendiri pada arus searah
C. Karena DC selalu memiliki arus bolak-balik
D. Karena beban resistif tidak bisa digunakan dengan SCR
B. Prosedur Percobaan
- Untuk
membuat rangkaian ini, pertama, siapkan semua alat dan bahan yang
bersangkutan, di ambil dari library proteus
- Letakkan
semua alat dan bahan sesuai dengan posisi dimana alat dan bahan terletak.
- Tepatkan
posisi letak nya dengan gambar rangkaian
- Selanjutnya,
hubungkan semua alat dan bahan menjadi suatu rangkaian yang utuh
- Lalu mencoba menjalankan rangkaian , jika tidak terjadi error, maka rangkaian akan berfungsi yang berarti rangkaian bekerja.
B. Simulasi Rangkaian
1) Rangkaian Fig 17.6
Video Simulasi:
Download rangkaian Fig 17.6 (klik disini)
Download datasheet transistor 2N2222 (klik disini)


Komentar
Posting Komentar